Perjuangan Seorang Ibu Mencari Nafkah : Sebuah Renungan Memperingati Hari Ibu 2020

perjuangan seorang ibu mencari nafkah

perjuangan seorang ibu mencari nafkah

Desember, Hujan, dan Hari ibu

Sebuah surat untuk perjuangan seorang ibu mencari nafkah.

Empat hari kemarin, hujan berkepanjangan mengguyur wilayah Jogja dan sekitarnya. Pagi hingga sore hujan turun tiada henti. Namun kegiatan harian harus tetap jalan. Meskipun harus merangkak dalam guyuran hujan, tiada alasan untuk bermalas-malasan. Siapakah orang yang paling berjasa dalam situasi seperti itu? Dia yang membangunkanmu dari hangatnya kamar tidur? Siapa yang menyiapkan secangkir kopi untuk pagimu? Dia yang diam-diam merapikan jas hujan di jok motormu? Untuk yang diam-diam menyiapkan air hangat sepulang kau kerja? Juga yang diam-diam mendoakanmu saat turun hujan karena keyakinannya bahwa hujan membawa berkah? Ibu. Satu kata puitis di antara ribuan kata lainnya.

Desember memang terkadang membawa hawa yang sentimental. Pada penghabisan bulan ini, kita menemukan satu hari khusus untuk mengenang jasa seorang ibu. Satu hari yang mana sejarahnya sangat heroik, yang mana kalangan perempuan berkomitmen untuk sejajar dengan laki-laki. Hari ibu, satu hari yang mana kita, harus selalu mengingat dan menyebut namanya dalam doa-doa. Untuk perjuangan seorang ibu mencari nafkah.

Hari ini, 22 Desember 2020, kita kembali memperingati hari ibu. Kampus Dosen Jualan sebagai sebuah lembaga, turut mengucapkan Selamat Hari Ibu. Untuk ibu kita semua, juga untuk ibu pertiwi. Dalam sebuah kesempatan, Dosen Jualan sempat berujar bahwa beliau mempunyai ibu yang sangat tangguh. Kisah ini tentang perjuangan seorang ibu mencari nafkah. Ibunda dari Suryadin Laoddang adalah seorang pebisnis kuliner yang pernah mengalami masa-masa sulit di penghabisan tahun 1998. Ketika semua harga barang naik. Ketika orang mulai berpikir apakah besok bisa makan? Akankah besok turun ke jalan?

Baca juga :   Plugin Yoast SEO ? Pengertian, Fungsi, dan Cara Menggunakan

Kampus Dosen Jualan Mengucapkan Selamat Hari Ibu. Untuk Perjuangan Seorang ibu Mencari Nafkah

Ibunda Dosen Jualan, Suryadin Laoddang, menggunakan segala daya dan upaya agar bisnis kulinernya bisa bertahan di situasi krisis. Pak Dosen Jualan berujar bahwa ibundanya memakai trik jualan yang ampuh untuk mengatasi krisis. Beliau membuat paket-paket lauk dan sayur untuk dipasarkan kepada pelanggan. Satu paket dihargai dengan harga tertentu yang sangat terjangkau untuk kantong orang pada masa tersebut. Alhasil bisnis kuliner ibunda suryadin Laoddang mampu bertahan dan bisa menghidupi anak-anaknya. Bisnis kuliner memang harus menyesuaikan situasi dan kondisi. Harus pintar-pintar membaca arah pasar. Harus bisa memilih momentum yang tepat. Meskipun kita berjualan barang yang sangat primer dan pokok tetapi harus dengan strategi yang tepat. Dan ibunda dosen jualan, menjawab segala tantangan tersebut dengan kepala tegak. Itu menjadi satu bukti bahwa perempuan, khususnya ibu, merupakan pilar dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa mereka, tanpa ibu-ibu kita, masyarakat hanyalah sekumpulan makhluk  yang mengandalkan otot untuk bersaing antar sesamanya.

Sosok Ibu memang menjadi batu lompatan pertama seorang anak manusia untuk mengenali dunia. Penyair kenamaan Jogja, almarhum Iman Budhi Santosa, pernah bilang ibu sangat berperan di dunia ini “…karena ribuan anak telah melesat ke angkasa lewat pundaknya”. Tentunya ibu bukanlah sekadar pintu gerbang pertama yang mengenalkan manusia ke dunia, tetapi ibu  adalah dunia itu sendiri. Buktinya bangsa tempat kita tinggal juga memakai nama Ibu”Pertiwi”.Semoga jasa-jasa seorang ibu senantiasa lekat dalam benak setiap anak. Perjuangan seorang ibu mencari nafkah, perjuangannya ketika melahirkan, perjuangannya untuk memberikan yang terbaik untuk hidup. Semoga kita dapat membalas kasihnya yang tiada tara itu.

Baca juga :   Jalan Pedang Kampus Dosen Jualan, Musashi dan Repetisi