Jangan Menunggu Sempurna Untuk Bergerak

Oleh : Ibra M. Tigotsulatsi

 

Para pebisnis yang masih terlalu ragu untuk mengeksekusi sebuah ide karena alasan belum siap ini itu, maka bersiaplah untuk tidak mencapai apapun. Contoh, satu di antara beberapa relasi saya punya keinginan untuk membuka sebuah kafe, tapi belum terlaksana, lantaran belum memiliki dana yang cukup untuk mengeksekusi segala hal yang menunjang standar ide idealnya.

 

Ia merasa belum ada dana yang cukup untuk mendirikan bangunan kafenya. Merasa belum ada dana yang cukup untuk membeli peralatan dapur lengkap beserta mesin kopi standar resto bintang 5. Merasa  belum ada dana untuk menggaji karyawan yang memiliki kepakaran di bidangnya masing-masing.

 

Akhirnya, hingga kini kafe yang ia damba-dambakan tak kunjung terealisasi. Padahal untuk buka kafe tak harus memiliki bangunan. Untuk buka kafe tak harus pakai mesin kopi berstandar hotel bintang lima. Padahal ia cukup punya dana, untuk membuka beberapa kafe yang lebih sederhana, jika ia mau mengeksekusinya.

 

Karena toh fakta telah banyak membuktikan betapa kafe yang kelihatannya hanya bermodal gerobak dengan alat seduhan kopi tradisional ditambah beberapa punggawa yang sebenarnya bukan pakar di bidang perkopian dan pelayanan, bahkan hanya lulusan SMP, juga bisa jalan, bisa ngomset dan yang terutama ada “free cash”-nya.

 

Memang sih kelihatannya kafe yang seperti itu kurang punya “gaya”, tapi kalau stabilitas keuangannya lebih baik ketimbang kafe yang kelihatan lebih ‘gaya’ kenapa tidak? Padahal bisnis itu bukan tentang gaya-gayaan. Percuma punya kafe keren, tapi dari modal utang yang ngeriba, keuangan perusahaannya juga “mengkis-mengkis” (ngos-ngosan).

 

Di sudut Nusantara yang lain, saya punya kenalan. Namanya Pak Suryadin Laoddang (saya biasa memanggil beliau Pak Adin–saya optimis sebagian dari Anda sudah kenal beliau) Beliau mendirikan sebuah sekolah pelatihan bisnis bernama Kampus Dosen Jualan yang kini telah mengkader ratusan bahkan mungkin ribuan para pebisnis handal. Beberapa bisnis binaannya kini bahkan sudah mulai ekspor barang ke luar negeri.

 

Beliau bercerita kepada saya, waktu awal-awal membuka kelas pelatihan bisnis ia sama sekali tak punya modal dana. Pelatihan bisnis malahan pertama kali kelasnya beliau buka di teras rumahnya, yang kalau hujan otomatis peserta kelas akan buyar.

 

Waktu itu beliau masih menggratiskan kelas Kampus Dosen Jualannya, namun karena malah banyak peserta yang tidak memiliki komitmen belajar dan agar ikhtiar kebaikannya bisa semakin berkembang, maka dibuatlah sistem dan akad yang lebih profesional.

 

Ketika saya bertandang ke markas besar Kampus Dosen Jualannya di Yogyakarta, saya benar-benar dibuat salut dengan kondisi bangunan Kampus Dosen Jualan. Bukan karena kemewahan bangunannya, karena memang bangunannya masih jauh dari kata mewah. Bahkan bangunannya itu belum sempurna dan selesai dibangun.

 

Lantai kelasnya masih berlantaikan plester dan tanah. Temboknya bahkan masih berwarna semen. Meja kelasnya juga masih sangat sederhana. Akses jalan ke sana belum beraspal, dan masih terbatas hanya untuk satu mobil. Lokasi kampusnya ada di tengah-tengah hutan serta sawah (Anda bisa melihatnya di belakang pose kami foto bersama). Dari fakta bangunannya saja, itu sudah bisa menjelaskan banyak hal. Saya langsung dapat menilai bahwa pendiri Kampus Dosen Jualan ini memiliki tekad baja dan semangat membara.

 

Sebab tidak semua orang merasa siap dan berani membuka kelas pelatihan bisnis dengan kondisi bangunan yang belum sempurna seperti itu. Butuh mental yang kokoh, mengingat kecenderungan masyarakat di Indonesia yang masih enggan akan menghargai suatu hal yang tidak ada bentuk fisiknya. Atau yang bangunan fisiknya belum terlihat keren banget.

 

Tapi, meski sesederhana itu, Alhamdulillah Kampus Dosen Jualan bukan hanya langsung memberi dampak positif kepada pelajarnya, tapi juga masyarakat di sekitarnya. Semenjak berdirinya Kampus Dosen Jualan, perekonomian masyarakat sekitar kampus mulai berkembang. Hadirlah laundry pakaian, katering, warung, jasa persewaan motor di sekitar Kampus Dosen Jualan dan lain-lain. Musholla di dekat Kampus Dosen Jualan juga semakin lebih hidup.

 

Letak kampung di mana Kampus Dosen Jualan berada, cukup pelosok, sehingga penerangan sinar lampu terbatas.

 

Tak terlalu banyak yang mengira, kalau ternyata dahulu pak Adin bahkan tak bisa melanjutkan kuliahnya karena tidak ada dana untuk bayar kuliah. Tapi malahan kini beliau memiliki kampus sendiri. Bahkan tak jarang beliau menjadi dosen tamu di beberapa kampus.

 

“Jangan menunggu siap untuk berbuat baik. Tapi berbuat baiklah sampai siap.” Itulah yang akan saya ucapkan untuk merangkum semua tulisan saya di atas.

 

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *