Desi Slondok Memilih Kuliah di Kampus Dosen Jualan. Nama Desi Priharyana mungkin lebih terkenal sebagai Desi Slondok, seorang siswi inspiratif dari SMKN 2 Yogyakarta. Kisah perjuangannya pernah viral di berbagai media karena kegigihannya berjualan slondok, makanan tradisional dari singkong, menggunakan sepeda. Tujuannya hanya satu: membiayai sekolahnya sendiri dan sang adik. Kisah ini bukan hanya tentang berjualan makanan ringan, melainkan tentang tekad baja seorang remaja yang menolak menyerah pada keadaan.
Perjuangan di Atas Sepeda Ontel yang Menginspirasi
Setiap hari, pemandangan Desi yang mengayuh sepeda ontel dengan keranjang berisi slondok di belakangnya menjadi hal yang biasa di lingkungan sekolah. Bagi Rosmy, guru sejarahnya, momen pertama kali melihat Desi datang ke sekolah dengan “krombong” slondok itu sungguh mengejutkan. Namun, rasa kaget itu dengan cepat berubah menjadi kekaguman. Desi, di usia 17 tahun, telah menunjukkan kemandirian luar biasa, memilih untuk tidak bergantung kepada orang lain. Setiap pagi dan sore, setelah bel sekolah berbunyi, sepedanya menjadi “gerobak” berjalan yang mengantarkan harapan.
Rosmy mengungkapkan, para guru di SMKN 2 Jetis bukan hanya mendukung, tetapi juga menjadikan Desi sebagai teladan. Semangatnya yang tak pernah pudar untuk meraih pendidikan sambil bekerja keras adalah inspirasi nyata bagi siswa-siswa lain. Bahkan, banyak guru dan karyawan di sekolah itu yang akhirnya menjadi pelanggan setia slondok “Mak Nyuss” milik Desi. Rosmy sendiri sering membelinya untuk keluarga di rumah, memuji rasanya yang enak dan alami tanpa zat pewarna. Dengan harga yang terjangkau, hanya Rp 7.000 per bungkus, slondok Desi bukan hanya lezat di lidah, tetapi juga menjadi simbol dukungan dan kebanggaan komunitas sekolah terhadap perjuangan seorang muridnya.
“Mak Nyuss” yang Menarik Hati Wisatawan
Slondok Desi ternyata tidak hanya digemari oleh guru dan teman-temannya. Ia membuktikan bahwa kualitas dan rasa otentik mampu menarik pasar yang lebih luas. Dengan merek “Mak Nyuss” yang sederhana namun menarik, slondok buatannya mulai dikenal di kalangan wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Desi bercerita, Wakil Bupati Sleman, Yuni Setia Rahayu, bahkan pernah membeli tiga bungkus slondok darinya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dan keuletan Desi benar-benar diakui.
Pemasaran Desi juga terbilang cerdas dan sederhana. Ia menempelkan nomor ponsel di setiap bungkus slondoknya, sebuah langkah yang ternyata sangat efektif. Berkat strategi kecil ini, Desi sering menerima pesanan dari wisatawan yang ingin menjadikan slondoknya sebagai oleh-oleh. “Ada yang dari Bogor, Bandung, dan Jakarta,” kenangnya. Pesanan itu tidak tanggung-tanggung, sering kali mencapai lima hingga sepuluh bungkus dalam sekali order. Namun, tidak semua kisah berjalan mulus. Desi juga pernah merasakan kekecewaan, seperti ketika ada pembeli yang datang jauh-jauh di pagi buta, namun stok slondoknya sudah habis. Kejadian ini tidak membuatnya putus asa, justru menjadi pengingat bahwa permintaan pasar begitu tinggi dan ia harus lebih siap.
Sebuah Transformasi Menuju Dunia Digital di “Kampung Perubahan”
Kisah Desi yang viral pada tahun 2014 menjadi titik balik. Perhatian publik dan media membuka jalan baru, yang mengantarkannya pada sebuah keputusan besar. Setelah lulus dari bangku SMK, Desi memilih untuk tidak berhenti belajar, ia melihat potensi yang lebih besar di era digital. Keputusan Desi ini membawa langkahnya ke sebuah tempat yang mungkin tidak pernah ia bayangkan: Kampus Dosen Jualan.
Bukan di tengah hiruk pikuk kota, tempat ini justru tersembunyi di sebuah sudut kampung di bilangan Kota Pendidikan Yogyakarta. Aksesnya jauh dari keramaian, hanya bisa dijangkau oleh ojek online. Suasana pedesaan yang kental, dengan suara ayam, sapi, dan hamparan sawah, menjadi teman sehari-hari para penghuninya. Jauh dari kemewahan, jauh dari kenyamanan, tempat ini dikenal sebagai “kampung cinta, kampung perubahan, dan kampung pemberdayaan”.
Tempat ini bukanlah tempat biasa. Ini adalah sebuah “kawah candradimuka” bagi mereka yang bertekad kuat. Selama tiga bulan, para peserta digembleng habis-habisan dalam program digital marketing. Setiap hari, dari Senin hingga Sabtu, dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, mereka belajar dan langsung mempraktikkan trik-trik jualan online. Tidak ada ruang untuk alasan atau izin yang tidak penting. Hanya mental baja yang bisa bertahan di sini, mental yang tidak selemah kue agar-agar atau seberani kucing garong yang disiram air.
Di Kampus Dosen Jualan, para peserta datang dari berbagai latar belakang, usia, dan daerah. Mulai dari yang berusia 8 tahun hingga 56 tahun, dari Aceh hingga Papua, bahkan ada yang nekat menempuh perjalanan jauh dengan sepeda ontel. Mereka datang dengan satu tujuan: merubah taraf ekonomi keluarga. Mereka adalah orang-orang yang berani mengambil jalan terjal, mematikan ego dan angkuh, demi sebuah perjuangan yang perih namun menjanjikan. Meski begitu, kampung ini adalah kampung cinta, kampung perubahan dan kampung pemberdayaan.
Bukan Sekadar Belajar, tapi Berubah Total
412 pebisnis online lahir disini, lahir untuk merubah taraf ekonomi keluarganya dan kemudian berkemajuan dengan mempekerjakan orang lain. Ada yang memberdayakan 3 karyawan, 10 karyawan hingga 44 karyawan. 3 bulan mereka belajar disini, 3 bulan berburu target, 3 bulan digembleng di Kampus Dosen Jualan. Tiap hari belajar dan praktek trik jualan online dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore.
Senin hingga Sabtu, tidak adalah alasan untuk dapatkan ijin, tabu untuk minta ijin dan takkan kami beri. Maka, hanya yang bermental baja yang berani tempuhi jalan berliku dan menyakitkan ini. Meski berliku dan menyakitkan tetap saja ada yang berani dan sukes menempuhinya. Dari usia 8 tahun hingga 56 tahun, dari Aceh yang terbang dengan pesawat hingga dari Papua dengan kapal laut, atau dari Makassar yang beringsut jalan kaki 1/4 perjalanan. Atau dari Magetan yang naik sepeda ontel. Dari Bogor boyong anak istri, dari Medan bergantian ikut Ibunya, Anaknya, Suaminya dan Ponakannya.
Desi, dengan semangat yang sama saat ia berjualan slondok di atas sepeda, kini belajar bagaimana memanfaatkan media sosial, e-commerce, dan teknik pemasaran online lainnya. Ia tidak lagi terbatas oleh jarak atau waktu. Kisah Desi Slondok adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih impian. Dengan tekad, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar, segala hal mungkin tercapai. Kisah ini juga menyoroti pentingnya adaptasi di era modern. Desi, yang memulai dari nol dengan cara tradisional, mampu melihat peluang di dunia digital dan berani mengambil langkah untuk menguasainya. Dari gerobak sepeda yang berisi slondok “Mak Nyuss”, kini ia siap menaklukkan dunia bisnis digital dengan pengetahuan dan semangat yang sama, atau bahkan lebih besar. Kisahnya akan terus menginspirasi, bahwa setiap tetes keringat yang jatuh hari ini adalah investasi berharga untuk masa depan yang lebih cerah.
Info Kampus Dosen Jualan
Membutuhkan Informasi Kursus internet marketing dan Pelatihan Jualan Online?
Hubungi admin kami di : 0821-3694-7525
Tersedia kelas Private Fb Ads, Private Instagram Ads, Private Landingpage, Private Website, Private youtube marketing dan Private Whatsapp Marketing.
Jika ingin mengundang Seminar atau Workshop bisa menghubungi Pembicara Internet marketing.
Apabila membutuhkan konsultasi bisnis anda bisa menghubungi Konsultan bisnis online bersama Dosen Jualan bpk Suryadin Laoddang untuk sesi bisnis coaching bisnis.
klik gambar di bawah untuk terhubung langsung dengan admin Kampus Dosen Jualan Yogyakarta
Atau bisa datang langsung ke Kampus Dosen Jualan Yogyakarta
Alamat: Jalan Tembus Draman – Mutihan, RT.04 Pedukuhan Mutihan No. 99, Mutihan, Jatigrit, Srimartani, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55792
Anda akan di sambut hamparan sawah nan hijau dan suasana pedesaan yang ramah 🙂




